Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

January 12, 2013

Perjalanan Sebuah Naskah Menjadi Buku

Tidak banyak orang yang tahu berapa lama sebuah naskah itu sampai menjadi buku.  Sebagian besar orang mengira membuat sebuah buku itu cepat dan saya juga dulu berpikir begitu.  Tapi setelah menjalaninya, ternyata banyak sekali tahap-tahapan naskah tersebut hingga menjadi sebuah buku.

January 9, 2013

Fokus Menulis

Sering sekali tulisan yang kita buat terbengkalai tidak selesai.  Mengapa ya?  Pasti kita sudah tahu jawabannya  hayo...Alasannya sih lumrah saja, sibuk ngurus pekerjaan rumah tangga.  Sibuk mengantar

December 29, 2012

Agar Ide tidak Hilang

Pernah seorang teman mengeluh karena banyak ide-idenya tentang tulisan menghilang begitu saja dari otaknya.  Lalu saya bertanya kenapa tidak dicatat, kan bisa di notes, di tablet, di HP atau lainnya.  Jawabnya

October 18, 2012

Tulislah apa saja!

 Saya suka mencoba dan belajar apa saja yang tentunya menarik bagi saya.  Begitu juga dengan tulisan.  Saya kadang mencoba menuliskan apa saja yang ada di dalam benak, tentunya tentang tulisan dan positif ya hehe.  Coretan itu saya biarkan begitu saja dan saya mulai lagi menuliskan yang lainnya.  Wah kapan bisa jadi satu cerita dong kalau begitu?    Tergantung!  Kalau ide-ide itu berderet dan terus menerus, pastinya akan jadi sebuah ulisan yang utuh.  Tapi kalau idenya lompat lompatan kaya main tali, pasti saja agak lambat jadi cerita utuhnya.  Tapi jangan bingung dulu, biarkanlah tulisan itu berjalan apa adanya.  Nah kalau ngegantung alias tidak selesai bagaimana?  Ya biarkan saja, kita bisa pindah ke ide tulisan lain.  Pasti dari banyak ide tulisan ada yang jadi cerita utuh! 

Begitu seterusnya, tulislah apa saja yang kita mau.  Bisa saja nantinya ide awalnya ingin menulis cerita anak, malah jadinya ke cerita remaja.  Boleh jadi tadinya ingin menulis cerita persahabatan malah jadinya cerita petualangan.   Lalu salahkah?  Tentu tidak, biarkan tulisan terus memenuhi halaman demi halaman, dan kita tinggal menunggu hasil akhirnya.  ada yang sesuai dengan ide awal, ada yang melenceng sedikit, bahkan ada yang berubah total hehe.  Yuk menulis lagi...

June 22, 2012

Ketika Ide Datang Tiba-tiba

Idet untuk tulisan memang bisa datang dari  mana-mana.  Kadang ide muncul tiba-tiba, bahkan tak terduga tempat dan waktunya.  Biasanya, ide itu juga akan cepat pergi berlalu, mirip seperti tamu misterius.  Nah, bagaimana caranya agar ide yang mendadak datang itu tidak hilang dari kelapa eh kepala? Tentunya setiap penulis punya cara tersendiri dalam menangkap ide itu (kok jadi mirip nangkep penjahat ya hehe).  Ada penulis yang mencatatnya di notes kecil jika tidak sedang di depan laptop/komputer.  Ada juga yang menuliskan idenya di handphone/tab dan lain-lain. 

Pernah saya mendapatkan ide di jalanan.  Saya menyempatkan menuliskan judulnya di HP karena tidak mungkin menulis di notes sambil jalan kaki hehe.  Saya tenang karena ide sudah saya tuliskan. Sampai di rumah catatan ide tidak saya buka karena sudah mengerjakan rutinitas di rumah lagi.  Baru beberapa hari kemudian catatan ide saya buka kembali.  Tapi apa yang terjadi?  Judul yang terdiri dari kata-kata pendek itu saya baca kembali dan hasilnya saya lupa dengan jalan cerita yang akan saya tuliskan. 

Sejak itu setiap mendapatkan ide di tempat dan waktu yang tak terduga, saya berusaha untuk berhenti sejenak dan mencatat atau menuliskan sinopsis singkat dari ide cerita itu.  Dan saya berhasil, sinopsis pendek yang terdiri dari 3-4 kalimat pendek itu sangat membantu sekali.  Saya tidak lagi lupa dengan jalan cerita dari ide yang akan saya tulis.  Semoga bermanfaat!

March 16, 2012

Menabung Tulisan (Naskah)

Kedengarannya aneh dan tidak biasa ya.  Bukankah kalau mendengar kata tabungan, kita selalu hubungkan dengan uang.  Memang benar, tapi tulisan juga bisa ditabung loh.  Maksudnya menabung tulisan disini adalah mencicil menulis naskah cerita.  Jadi walau sedang tidak ada deadline kita tetap terus menulis.  Lalu apa yang akan kita tulis?  Apa saja, mau cerita pendek, mau cerita setengah panjang seperti novel anak atau yang panjang sekali seperti novel remaja atau dewasa.  Hihi kebayang kalau nulis novel yang minimal 200 halaman dan nonstop.  Pasti tangan, bahu dan mata rada puyeng ya.  Nah, dengan menabung tulisan dan kontinyu menulisnya, pasti tulisan akan selesai.  Walau cuma dapat satu cerita pendek tiga halaman.

Lalu apakah sudah?  Ya jangan dong!  Sudah untuk cerita pendek dengan satu judul, lalu buat lagi cerita yang lain.  Paling tidak setiap hari menulis, walau hanya dapat satu alinia.  Nah, nanti lama-lama dengan kebiasaan menabung tulisan ini kita akan mendapatkan tabungan naskah yang cukup lumayan.  Terus apakah tabungan naskah kita itu didiamkan saja sampai penuh?  Ya tidak lah!  Tinggal mengirimkannya ke penerbit atau ke koran-koran.  Lalu duduk manis menunggu kabar (diterima atau ditolak hehe).

Tapi selama masa menunggu, jangan lupa terus menulis lagi.  Jangan sampai tabungan naskah kita kosong.  Syukur-syukur kalau ada penerbit yang mencolek minta naskah dari kita.  Tinggal kita ambil saja dari tabungan naskah.  Ayo semangat menulis...!



 

March 11, 2012

Poles Ulang Naskah

Jika naskah tulisan kita ditolak, apa yang harus kita lakukan?  Bersedih? Diam, ngambek malas nulis lagi, atau apa?  Bersedih sebentar boleh dong!  Tapi sebentar saja ya...Nah yang tidak boleh itu adalah ngambek, diam dan malas nulis.  Pokoknya jangan jadikan alasan penolakan itu sebagai alasan untuk malas menulis.

Bukan hanya kita yang pernah ditolak oleh satu penerbit.  Penulis yang sudah senior pun dulunya pasti juga penulis pemula kan?  Pasti mereka juga pernah dan sering ditolak juga.  Lalu Apa yang harus kita lakukan dengan naskah yang ditolak itu?  Ya kita lempar lagi ke penerbit yang lainnya.  Siapa tahu penerbit yang ini mau mengambil naskah kita.  Kalau tidak bagaimana?  Hihi jangan putus asa!  Kita edit lagi dan sesuaikan dengan kriteria persyaratan naskah dari penerbit yang  lain itu.  Jangan menyerah, hingga sampai akhirnya naskah kita diterima.

Wah, kalau begitu membosankan dan memakan waktu cukup lama ya?  Tentu saja, semua kan butuh proses dan waktu.  Tak ada yang instan tentunya,  tapi toh akhirnya kita akan senang jikanaskah itu akahirnya diterbitkan menjadi buku.  Selamat menulis...

March 1, 2012

Mengirim Naskah Tulisan


Sebelum mengirimkan naskah ke penerbit, ada hal-hal yang harus kita perhatikan:
1. Ikuti petunjuk pengiriman naskah dari penerbit yang kita tuju.  Kita bisa lihat di websitenya.
2. Sesuaikan naskah yang akan kita kirim dengan buku keluaran penerbit itu.  Jangan mengirim naskah fiksi ke penerbit buku pelajaran atau sebaliknya.  Karena akan sia-sia dan pasti ditolak.
3. Biasanya naskah dikirim dalam bentuk hardcopy dan jangan lupa untukmenyertakan amplop kosong yang sudah ditempeli perangko dan alamat kita.  Maksudnya apabila naskah kita ditolak, maka penerbit itu akan mengembalikan lagi pada kita.
4. Jika naskah boleh dikirim dalam bentuk softcopy, sesuaikan dengan syarat dari penerbit tersebut.
5. Setelah semua diperiksa, boleh naskah kita kirimkan.  Jangan pernah mengirim naskah yang seadanya, banyak tipo, layout berantakan, dll.
6. Jangan lupa untuk menyertakan surat pengantarnya sebagai etika dan sopan santun dalam surat menyurat.  Selamat menulis...

February 29, 2012

Sinopsis Cerita


Setiap penerbit selalu mengingatkan untuk mengirmkan naskah beserta sinopsisnya.  Apa sebenarnya sinopsis itu?

Pada sebuah buku, biasanya sinopsis ada di belakang cover buku. Sinopsis tersebut memberikan gambaran ringkas isi buku tersebut.  Dengan membaca sinopsisnya, jika dapat mengetahui isi buku itu secara umum.  Pembaca yang ingin membeli sebuah buku, dapat menentukan apakah akan membelinya atau tidak setelah membaca sinopsisnya.  Berarti dari sinopsis itu pembaca sudah bisa mengetahui apakah buku itu ceritanya menarik atau sesuai tidak dengan jenis buku yang disukainya atau dicarinya.

Itu kegunaan sinopsis bagi pembaca/pembeli buku.  Lalu bagi penerbit apa gunanya?  Woo ternyata sangat berguna, terutama bagi editor yang akan menyeleksi naskah.  Bayangkan, satu penerbit bisa menerima begitu banyak tumpukan naskah yang masuk.  Nah, kan tidak mungkin editor tersebut akan membaca ratusan naskah utuh satu persatu.  Yang pertama dilakukan oleh editor adalah membaca sinopsisnya.  Dari membaca sinopsis, editor akan tahu isi naskah itu.  Jika isinya menarik dan sesuai dengan visi misi penerbit, maka naskah itu akan dibacanya.Jika tidak otomatis naskah itu akan berpindah ke tempat tumpukan naskah yang ditolak. Akhirnya berpengaruh pada jawaban yang lebih cepat dari penerbit, entah itu diterima atau ditolak.  Jadi jangan lupa untuk menyertakan sinopsis dalam setiap pengiriman naskah.  Semoga manfaat...

February 28, 2012

Selera Penerbit

Pertama menulis, hanya senang mencoretkan ide dalam pikiran saja. Tapi setelah mulai bisa membuat naskah atau tulisan pendek tentu ada keinginan lain dalam diri kita. Kenapa tulisan ini tidak diterbitkan ya? Pertanyaan itu pasti ada pada semua orang tentunya. Lalu ada pertanyaan lanjutannya. Adakah penerbit yang mau menerbitkan tulisan ini menjadi buku? Pasti ada! Tapi lagi-lagi bertanya hehe. Penerbit mana ya?

Teman-teman tentu tahu, banyak sekali penerbit di sekeliling kita. Mulai penerbit kecil, penerbit yang baru muncul, sampai penerbit besar yang sudah ada dari zaman dulu. Atau penerbit indie yang juga banyak bermunculan. Wah, bingung...mau dikirim ke mana naskah kita? Tanya sana, tanya sini. Cari seluruh alamat penerbit yang ada. Kata si A bagus kirim ke penerbit Anu. Kata si B, kirim saja ke penerbit Itu. Hihi yang ada malah bingung dan enggak jadi ngirim...

Kebanyakan pendapat membuat saya bingung sendiri. Tapi enggak lama-lama kok. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih satu penerbit yang paling sesuai dengan visi dan misi menulis saya (halah serius amat ya). Setelah saya memutuskan penerbit itu saya tidak serta merta mengirimkan naskah yang sudah jadi itu. Loh, kenapa? Takut tidak sesuai dengan selera penerbit itu tentunya. Lantas apa yang harus dilakukan selanjutnya? Hmmm, agar tidak salah sasaran, saya harus tahu buku-buku apa saja yang diterbitkan oleh penerbit itu. Untuk itulah saya harus mencari tahu. Caranya?

  1. Pergi ke toko buku.  Lihat dan perhatikan buku apa saya yang diterbitkan oleh penerbit yang kita tuju.
  2. Pilih satu buku dan beli (jangan minjem bulu ya hihi)
  3. Pelajari buku yang sudah dibeli (mulai cara penulisan, alur cerita, jenis cerita, sampai bentuk penulisan serta ejaan, dll)
  4. Edit naskah tulisan yang kita buat menjadi seperti itu (bukan mencontek isinya loh)
  5. Endapkan tulisan beberapa waktu.
  6. Baca ulang hingga tak ada lagi kesalahan penulisan.
  7. Siap dikirimkan (lalu menunggu kabar baik datang....hehe ngarep).   Ini gayaku...bagaimana dengan gayamu? Selamat mencoba....

February 25, 2012

Alur Cerita

Ketika kita pertama kali ingin menuliskan sebuah cerita suka bingung.  Maksudnya mau mulai cerita dari mana ya?  Nah, biar tidak bingung kita tentukan saja dulu alur ceritanya.  Apa sih alur cerita itu?  Secara garis besar alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang ada dalam naskah tulisan kita.  Ada tiga alur cerita secara umum :
  1. Alur maju :  jika rangkaian cerita dalam naskah itu peristiwanya berjalan maju dari awal sampai akhir.  Misalnya : menulis tentang kegiatan seekor ayam.  Ceritanya ditulis mulai dari ayam itu bangun dipagi hari, lalu kegiatan ayam tersebut mulai pagi, siang hingga ayam tersebut tidur kembali.  Jadi peristiwanya berurutan dan bergerak maju.
  2. Alur mundur : jika rangkaian ceritanya peristiwanya bergerak mundur.  Misalnya : menceritakan seorang tokoh  yang kini sudah berhasil menjadi pengusaha terkenal.  Nah, cerita ditulis kembali ke belakang, dimana mengisahkan masa kecil sang tokoh.  Dari masa kecilnya,  tentang sekolahnya dll.  Jadi jalan ceritanya bergerak ke belakang.
  3. Alur maju mundur : kadang suatu cerita bisa dibuat mengikuti alur maju dan mundur.  Misalnya : menceritakan kegiatan seorang anak ketika di sekolah.  Di tengah cerita, alurnya berpindah menceritakan tentang kegiatannya anak tersebut ketika balita yang sangat suka jajan.                              
Nah, mau nulis dengan alur apa?  Silahkan dicoba....

February 22, 2012

Potongan Cerita

Pernahkah ini terjadi pada teman-teman?  Apa tuh!  Tulisan masih saja melebar dan mengembang.  Hehe padahal kerangka cerita sudah dibuat dengan rapi.  Hihi ini masih terjadi sampai sekarang.  Tapi enggak perlu susah hati.  Justru bisa menguntungkan!  Loh kok menguntungkan?  Bukankah kita jadi repot mengedit lagi, repot memangkas bagian-bagian cerita.  Iya sih kalau mau...tapi masalahnya saya tidak mau... jadinya gimana?

Jadinya satu naskah tadi saya bagi menjadi dua atau tiga bagian.  Lalu tiap-tiap bagian tinggal ditambah lagi beberapa halaman tulisan.  Tiap tulisan sesuai dengan bagian potongannya ceritanya. Begitu selesai, kita sudah mempunyai dua-tiga naskah cerita jadi.  Lalu tinggal kita beri judul, dengan judul yang berbeda tentunya. Hmm, enggak ada yang sia-sia kan?  Awal hanya ingin menulis satu cerita, eh malah untung dapat dua atau  tiga.  Bahkan bisa mendapatkan satu seri cerita dengan lima judul sekaligus. 
Semoga manfaat...



February 21, 2012

Outline atau Kerangka Cerita

Masih ingat ketika baru pertama menulis dulu. Semangat yang menggebu memang bagus untuk menulis sebuah cerita. Hmm..itu saya lakukan. Saya mencoba menulis sebuah cerita, ingin mencoba mengirimkannya pada satu majalah. Berbekal semangat yang tinggi saya langsung siap-siap (bukan siap-siap makan loh hehe, biar enggak serius yang baca).


Ketika ide muncul, saya langsung menuliskannya menjadi sebuah cerita. Semangat yang berlebih membuat huruf demi huruf bermunculan begitu saja. Maksud hati ingin membuat naskah tiga halaman, eh jadinya malah tujuh halaman. Tentu saja saya senang karena cerita itu sudah selesai. Lalu saya ingat, naskah yang diinginkan hanya tiga halaman saja. Lalu saya baca lagi naskah itu. Ternyata memang banyak kalimat yang melebar. Kalimat itu beranak pinak, bersayap sehingga tulisan mengembang. Ingin nulis 'kota A' malah jadi mampir di 'kota B' dan berhenti di 'kota C.' Ampun, tulisan jadi enggak sesuai dengan ide pertama yang muncul. He he he, akhirnya dengan susah payah, saya memangkas tulisan yang tidak efektif itu. Kalimat yang melebar dan keluar dari tema cerita dipenggal habis-habisan. Wuuah ...bikin bete tentunya. Kerja jadi dua kali. Berdasarkan bete, kesal itulah, akhirnya saya mulai belajar membuat kerangka cerita. Outline cerita dibuat dulu (tidak detail tak apa-apa, agar tulisan tidak terlalu melenceng dari jalur tema yang akan kita tulis). Sejak itu tulisan saya mulai terarah, tidak keluar jalur lagi (hehe kaya kereta aja). Kerangka cerita sangat membantu saya untuk menulis lebih terarah dan rapi. Semoga bermanfaat...

February 16, 2012

Self Editing...Perlukah?

          Hmm..aku inget ketika baru bisa menulis sebuah cerita.  Saking senengnya langsung pamer sama anak untuk dibaca.  Kebayang dapat pujian dari cerita itu, eh malah dapat kritikan.  Pertamanya pingin ngomel tentunya, tapi kritikannya ternyata bener semua.  Hihi enggak jadi ngomel akhirnya.  Terus sambil duduk baca lagi satu persatu kalimat di cerita itu. 
          Ada yang....hehe nungguin ya? Ternyata memang bukan isi cerita yang diberi kripik pedas karena menurut anakku ide ceritanya bagus.  Hihi..ternyata banyak sekali tiponya.  Aku jadi senyum-senyum sendiri, kupikir tulisanku sudah rapi jali.  Perasaan tadi sudah kubaca ulang sebelum dibaca anakku.  Ini dia kesalahan ditulisanku yang diberi kripik asam pedas:
  1. Salah ketik itu yang pertama (banyak sekali) : mau nulis dan jadi din.
  2. Pemakaian huruf besar untuk nama orang, nama kota, awal kalimat : ini terlihat sepele tapi masih sering salah.
  3. Pemakaian kata depan, dipisah jika menunjukkan keterangan tempat, selain itu penulisannya disambung : misalnya di dapur, di kamar.
  4. Kapan memakai tanda baca titik, koma, tanda seru, tanda tanya, dll
  5. Bagaimana memberi spasi sehabis tanda baca : kadang lupa memberi spasi sehingga tulisan jadi dempet kaya penumpang kereta (eh kok ngelantur)
  6. Penulisan alinia baru harus dibedakan.  Bisa menjorok ke dalam atau spasi digandakan : biar yang baca matanya gak puyeng karena kalimatnya bergabung jadi satu.
  7. Penulisan kata sambung sebagai awal kalimat, ini sering dilakukan : Dan akhirnya mereka....atau Yang dilakukan oleh...
          Itu beberapa saja hal yang kuingat, sebenarnya tentu masih banyak lagi.  Nah, sejak itulah akhirnya aku selalu melakukan self editing pada setiap cerita yang sudah kubuat.  Dua sampai tiga kali barulah naskah itu akan kukirim.  Percaya tidak, walau sudah dua-tiga kali diedit, ternyata kadang masih ada juga tiponya.  Jadi kebayang kalau naskah itu habis diketik langsung dikirim ke penerbit.  Wuuaa pasti editornya sebel liat tulisan kita....hehe.  Oke selamat menulis...!  

January 24, 2012

Memancing ide dari Gambar

Pernah kita sulit sekali mendapatkan ide untuk tulisan kita.  Padahal sudah membaca mencoba beberapa cara, mulai dari membaca beberapa buku yang sejenis.  Atau membaca majalah, koran, tabloid, untuk menyegarkan kepala agar ide itu muncul.  Sudah berjalan-jalan ke tempat yang dapat menyegarkan mata.  Tapi herannya ide itu tidak muncul juga.  Wah pasti sebel banget ya kalau sudah begini. Lalu apakah kita harus menyerah?  jawabnya tanya saja pada rumput yang bergoyang hehehe...dijamin tidak luntur eh tidak mendapat jawaban.

Ssstt...jangan kesal dulu.  Ada salah satu cara yang akan kita bicarakan. Caranya mudah dan murah loh.  Browsing saja gambar di internet secara acak.  Lalu kumpulkan gambar-gambar itu sebanyak mungkin dan mulai pandangilah. Tapi melototnya jangan terlalu lebar ya, nanti komputernya malu malah gambarnya jadi hilang hihi.  Lalu diapakan gambar-gambar itu setelah dipelototi.  Sabar dulu, jangan terburu-buru.  Biarkan saja mata kita puas keliling melihat gambar itu.  Pasti wajah kita akan berubah.  Berubah menjadi  batman kali ya.  Tentu tidak, kita pasti jadi senang.  Percayalah (wah kok jadi kaya tukang obat di pinggir jalan ya hihi).

Lambat laun, kepala kita yang tadi mampet akan mulai membuka.  Satu persatu ide akan keluar dari tempat persembunyiannya itu.  Ide-ide cemerlang akan muncul  dengan sendirinya.  Wah betapa senangnya kalau sudah begini.  Tinggal cepat-cepat saja ide itu kita tangkap (kaya pencuri yang ketahuan ya).   Setelah ditangkap langsung kita tuangkan dalam coretan kasar agar tak hilang berlari.


Ternyata, setelah kita tuliskan ide itu banyak sekali.  Mudah bukan?  Jadi tunggu apa lagi?  Cepat tangkap ide dari gambar-gambar yang kita lihat.  Selamat mencoba!



January 17, 2012

Ide Macet?

Sebagai penulis yang baru belajar, saya sering sekali bingung untuk memulai tulisan yang akan saya buat.  Judul sudah ada, draft outline juga sudah dibuat.  Pertama menulis biasanya lumayan lancar. Dan dengan pedenya saya mulai menuliskaan huruf demi huruf agar membentuk kata dan kalimat yang baik dan sesuai kaidah tentunya.  Alinia pertama tulisan itu masih terus mengalir, jari-jari saya masih sibuk lompat dari satu tuts ke tuts lainnya.  Wuah senangnya kalau sudah begini, terbayang akan jadi sebuah cerita yang keren nantinya. 

Alinia kedua masih berlanjut hingga akhirnya satu halaman sudah selesai.  Makin senang rasa hati tentunya.  Tangan ini semakin lincah menekan tuts huruf yang ada.  Tapi....ketika mulai halaman kedua ini jari-jari saya sering berhenti.  Malah cendrung diam dan beralih ke memegang kepala.  Hehe tandanya ide tulisan lagi tidak mau muncul dari kepala.  Hah..!  Mengapa ide itu tiba-tiba menguap begitu saja dari otak ya?  Saya kembali membaca outline dan mencoba melebarkan cerita.  Tapi tangan ini tetap tak mau bergerak cepat.  jari-jari saya jadi tertatih-tatih bak seorang nenek yang jalan dengan susah payah.  Tentu saja saya bingung, yang ada malah tangan diletakkan menyangga dagu.   Melamun!  Melamun memikirkan apa lagi yang akan saya tuliskan.

Lama juga melamun tapi ide tulisan tak kunjung datang.  Akhirnya saya berhenti dulu lalu bangun sejenak.  Yang pertama pasti meregang badan, menarik tangan ke atas kepala.  peregangan pendek itu cukup membuat badan saya kembali lemas.  Kemudian saya mulai melakukan langkah-langkah seperti ini :
  1. Baca buku sejenis atau buku-buku lainnya agar bisa menularkan ide segar ke dalam otak saya. cara ini lumayan membuat saya "jreng."  Setelah merasa cukup barulah saya kembali untuk meneruskan tulisan.  Biasanya tulisan akan kembali mengalir.  Bagaimana kalau mampet lagi dan jari-jari itu kembai mogok?  Saya akan mencari jalan kedua.
  2. Jalan kedua ini adalah menonton.  Tontonan apa saja yang saya lihat?  Apa saja akan saya lihat, yang penting bisa menenangkan pikiran dan sekaligus bisa menambah ide cerita.  Biasanya film kartun atau film anak lainnya banyak memberikan ide-ide baru lagi.  Kalau sudah merasa terhibur dan otak kembali segar, barulah saya menulis kembali.
  3. Cara lainnya adalah jalan-jalan ke luar rumah.  Bisa hanya dengan melihat-lihat tanaman hijau di halaman.  Atau jalan ke sekitar rumah.  Kalau mau agak jauhan ya ke mal terdekat buat cuci mata sekaligus cuci pikiran.
  4. Mendengarkan lagu juga cukup membuat kepala tentram (tapi jangan lagu metal yang kencueeng ya, nanti malah bikin pusing kepala hihi).  Kalau kepala sudah melunak (emang tahu ya?) baru ide biasanya muncul lagi.  kalau sudah muncul, maka segeralah menulis kembali.
  5. Bisa juga saya pindah tempat menulis, cari suasana yang lebih enak dan nyaman.  Biasanya saya menulis di kamar.  Bila bosan saya pindah menulis di ruang keluarga sambil mendengarkan lagu.  Atau jika sedang masak, saya akan pindah ke pojok dapur sambil memandangi kuali serta panci hehe.  Atau di mana saja tempat lainnya yang lebih nyaman, asal jangan di depan pagar rumah ya.
  6. Masih macet juga?  Biasanya kalau cara-cara di atas tidak mempan untuk membuat ide tulisan ke luar, saya akan mengambil jalan terakhir ini.  Tidur!  Ya tidur atau setidaknya istirahat selonjoran kaki akan membuat kita lebih rileks lagi.  Tidurnya tergantung masing-masing orang.  Mau tidur ayam (tidur-tiduran maksudnya) atau tidur kebo (tidur beneran dan lama hehe).  Tinggal pilih.  Kalau sudah bangun tidur dijamin kepala akan fresh kembali.  Maka lanjutkan tulisan.
Ini cara saya yang baru belajar menulis, temen-temen mungkin ada cara jalan dalam mengatasi ide yang tiba-tiba mampet ketika menulis.  Memang se tiap orang pasti akan berbeda.  Yang penting, apapun caranya tentu akan membuat kita terus menulis dan menulis.  Semoga manfaat...

January 16, 2012

Pelatihan Menulis?

Ketika membaca sebuah cerita anak di satu majalah, saya bisa begitu suka.  kenapa ya?  Padahal kisah yang diceritakan oleh penulis itu hanya cerita biasa yang dapat ditemukan sehari-hari. Sayapun tergerak untuk mencoba menulis kisah lain seperti itu. Lalu saya bandingkan hasil tulisan penulis itu dengan tulisan pemula milik saya.  Wih ...ternyata hasilnya jauh berbeda...he he he, tulisan saya kaku dan tak enak dibaca.  Halah ternyata saya masih perlu belajar menulis yang baik lagi.

Akhirnya terpikir oleh saya untuk belajar menulis, dengan maksud memperbaiki cara dan gaya menulis saya.  Kebetulan seorang teman menawarkan pelatihan menulis.  Gayungpun bersambut, saya langsung mendaftarkan diri.  Pelatihan itu diberi nama "Kelas Ajaib" yang digawangi oleh Benny Rhamdani, penulis yang sudah puluhan tahun berkutat dalam dunia kepenulisan dan sudah menghasilkan banyak karya.

Sayapun belajar di "Kelas Ajaib" dengan semangat.  Cara belajar yang unik dan mendorong motivasi menulis semakin meningkat.  Dari "Kelas Ajaib" inilah saya banyak sekali digembleng tentang lika-liku dunia penulisan.  Inilah beberapa cara yang saya dapat dari pelatihan itu:
  1. Mulai dari cara mencari ide dengan cepat.  Lewat contoh yang diberikannya ternyata ide itu banyak sekali di sekitar kita.  Semua bisa ditulis menjadi sebuah cerita.  
  2. Menentukan tema/judul.  Dari ide itu disempitkan lagi jadi sebuah tema.  dari tema inilah akhirnya judul tulisan dibuat, walau judul tak mesti ada lebih dahulu.
  3. Cara membuat outline tulisan.  Ini dipelajari dan dipraktikkan langkah demi langkah.
  4. Lalu mempraktikkannya hingga menjadi sebuah buku cerita anak, dan waktu penulisan ditentukan.  Deadline itu membuat semua peserta jadi termotivasi untuk menulis dan terus menulis.  Kami pesertanya juga didorong untuk menghasilkan karya hingga terbit menjadi buku.
Memang ajaib masuk di "Kelas Ajaib" ini.  Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dan banyak juga perubahan yang sudah saya terapkan dalam cara penulisan saya.  Rupanya Benny Rhamdani memang senang sekali membagi ilmunya.  Lewat "kelas Ajaib" yang didirikannya itulah, ia ingin mencetak penulis-penulis baru sebanyak mungkin.  Cita-cita beliau begitu indah, semoga akan banyak lahir penulis-penulis yang dapat menelurkan buku-buku cerita anak yang berkualitas.  Semoga...! 

January 15, 2012

Motivasi Menulis

Apa yang membuat kamu tergerak untuk menulis?  Pasti kamu sendiri yang dapat menjawabnya dengan benar.  Benar sekali!  Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda satu dengan lainnya. semua tergantung dari niat dalam diri masing-masing.  Lalu apa perbedaannya?  Mau tahu?  He he padahal saya juga tidak tahu lo pastinya.  Setidaknya inilah beberapa motivasi orang menulis yang bisa saya tangkap :
  1. Ada orang menulis hanya untuk mengeluarkan unek-uneknya saja.  Misalnya jika ia sedang marah dengan teman atau kakak, adik, tetangganya. Atau dia sedang senang dan bahagia, juga ditumpahkannya dalam sederet tulisan.  Jadi tulisannya itu sebatas catatan kecil atau diari pribadi saja.  Biasanya catatan ini dibuat tidak kontinyu, hanya pada waktu-waktu tertentu saja.
  2. Ada juga orang yang menuliskan catatannya setiap hari.  Isi catatan adalah kejadian dan kegiatannya yang terjadi sehari penuh itu.  Isi catatannya bisa beragam dan banyak hal.  Jika anak sekolah isinya akan berbeda dengan catatan seorang ibu muda atau orang yang sudah bekerja.
  3. Ada juga orang menulis khusus diari kisah kasihnya dengan pasangannya.  Ini tulisan yang paling banyak ditulis oleh remaja kita sekarang.  Dari diari seperti ini biasanya akan lahir puisi atau cerpen bahkan novel dari tangan mereka jika dikembangkan lebih lanjut.
  4. Ada yang menulis ingin mencoba berbagai lomba penulisan yang ada, siapa tahu menang dan mendapat hadiah.
  5. Ada yang termotivasi menulis karena ikut-ikutan teman.  Kenapa temannya bisa dia tidak!  Akhirnya ia termotivasi untuk mencoba menulis juga. Dari ikut-ikutan teman inilah akhirnya nanti ia bisa terus terdorong untuk tetap menulis, walau ada juga yang berhenti sendiri.
  6. Ada yang menulis karena mendapat tugas dari sekolah, tempat kerja atau lainnya. Biasanya tulisannya tidak berlanjut lagi, sehabis tugas ia akan berhenti menulis.  Kecuali jika tugas kantornya adalah sebagai wartawan, tentu ia akan terus menulis karena berkaitan dengan tugasnya sehari-hari di tempat bekerja.
  7. Ada yang menulis ingin mencari popularitas.  Bayangkan saja jika tulisannya bisa dimuat di media cetak atau diterbitkan dan dipajang di etalase toko buku ternama.  Akhirnya namanya bisa terkenal dengan tulisan yang dibuatnya.
  8. Ada yang menulis karena memang hobi menulis.  Orang seperti ini biasanya tidak mementingkan materi yang didapat dari menulis atau mementingkan popularitas yang akan didapatnya dari menulis.  Ia akan terus menulis karena hobi.
  9. Ada yang menulis karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan,  karena menulis juga bisa menghasilkan uang.  Bahkan sekarang menulis tidak hanya dijadikan sebagai lahan untuk mencari penghasilan tambahan saja. Banyak sudah yang menjadikan menulis menjadi satu profesi utamanya.
Nah kita masuk yang mana ya?  Apapun jawabannya yang penting harus selalu semangat menulis!

Kesalahan Dalam Penulisan

Sebagai orang Indonesia pasti kita tahu bahasa Indonesia.  Itu menurut kita ya.  Tapi benarkah demikian?  Ssstt..ternyata tidak!  Walau itu adalah bahasa ibu dan kita sudah mempelajarinya sejak masuk sekolah mulai Taman Kanak-Kanak sampai ke jenjang perguruan tinggi.  Pelajaran Bahasa Indonesia itu kita dapatkan bersama dengan pelajaran lainnya.  Wah..kita sudah belajar lama sekali ya, pasti kita sudah menguasai dengan baik.  Benarkah?  Untuk diri saya sendiri ternyata jawabannya "belum."  Kok bisa begitu ya?  He he entahlah...yang jelas saya merasakannya ketika menulis naskah cerita pertama kalinya.

Pertama sekali menulis sebuah cerita, saya merasa puas karena akhirnya bisa menjadi sebuah naskah walau hanya dua lembar saja.  Tulisan itu saya baca ulang dan rasanya sudah baik menurut saya.  Kemudian dengan pedenya saya pamerkan pada anak saya dan menyuruhnya membaca.  Ternyata mata saya dengan dia berbeda jauh walau sama-sama berwarna coklat.  Apa maksudnya?  Ternyata dia menemukan banyak kesalahan dalam penulisan cerita itu.  Bak seorang guru yang sedang memberitahu muridnya, dia ngoceh membeberkan kesalahan yang ada pada tulisan saya.  Tentu saya bengong, bukankah saya sudah dua tiga kali membaca ulang dan memeriksanya.  Saya mendengarkan dengan hikmat dan melihat letak kesalahan itu.  Ternyata....!  Jadi malu dan geli, rupanya saya belum menguasai bahasa saya sendiri, terutama dalam penulisannya.

Inilah beberapa kesalahan penulisan yang saya lakukan ketika itu:
  1. Penulisan huruf besar dan huruf kecil untuk nama orang, nama tempat (kota, negara, dll)
  2. Penulisan awalan dan kata keterangan tempat (dipisah atau disambung).  Ini sering sekali dilakukan, kelihatannya memang sepele bagi kita.  Tapi tidak sepele bagi naskah yang akan diterbitkan.
  3. Kesalahan penulisan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Itu karena kita terbiasa mengucapkan perkataan dengan pelafalan yang salah, jadi ketika menuliskannya kita juga salah.  Misalnya kata "benar" kita tulis "bener."
  4. Penulisan untuk istilah asing yang harus ditulis miring (italic).
  5. Cara penulisan sebuah kalimat yang memakai kaidah SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan).  Sering kita menulis tanpa memakai kaidah itu, terutama saya yang masih belajar menulis ini. Kaidah itu jadi sering terbalik-balik mengikuti pengucapan mulut.  
  6. dll.
Sejak itu saya harus memperbaiki dan  belajar lagi tentang bahasa Indonesia dan cara penulisan yang benar.  Ternyata masih banyak yang harus saya perbaiki.  Itu baru dalam hal penulisannya saya.  Belum lagi dalam hal lainnya.  Tak apa...sejalan dengan waktu kita juga terus belajar...ayo semangat!

January 13, 2012

Ditolak Penerbit?

Pernah tidak tulisan kamu ditolak oleh satu penerbit?  Dua bahkan tiga penerbit?  Pasti jawabnya pernah hehe.. Jangan sedih atau putus asa, ternyata penolakan itu tidak hanya menimpa saya yang belum banyak pengalaman di dunia kepenulisan.  Banyak juga penulis yang sudah senior masih tetap ditolak juga.  jadi kenapa kita harus kesal dan pusing memikirkannya?  Lebih baik cari tahu alasannya mengapa tulisan kita ditolak.