Pertama sekali menulis sebuah cerita, saya merasa puas karena akhirnya bisa menjadi sebuah naskah walau hanya dua lembar saja. Tulisan itu saya baca ulang dan rasanya sudah baik menurut saya. Kemudian dengan pedenya saya pamerkan pada anak saya dan menyuruhnya membaca. Ternyata mata saya dengan dia berbeda jauh walau sama-sama berwarna coklat. Apa maksudnya? Ternyata dia menemukan banyak kesalahan dalam penulisan cerita itu. Bak seorang guru yang sedang memberitahu muridnya, dia ngoceh membeberkan kesalahan yang ada pada tulisan saya. Tentu saya bengong, bukankah saya sudah dua tiga kali membaca ulang dan memeriksanya. Saya mendengarkan dengan hikmat dan melihat letak kesalahan itu. Ternyata....! Jadi malu dan geli, rupanya saya belum menguasai bahasa saya sendiri, terutama dalam penulisannya.
Inilah beberapa kesalahan penulisan yang saya lakukan ketika itu:
- Penulisan huruf besar dan huruf kecil untuk nama orang, nama tempat (kota, negara, dll)
- Penulisan awalan dan kata keterangan tempat (dipisah atau disambung). Ini sering sekali dilakukan, kelihatannya memang sepele bagi kita. Tapi tidak sepele bagi naskah yang akan diterbitkan.
- Kesalahan penulisan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Itu karena kita terbiasa mengucapkan perkataan dengan pelafalan yang salah, jadi ketika menuliskannya kita juga salah. Misalnya kata "benar" kita tulis "bener."
- Penulisan untuk istilah asing yang harus ditulis miring (italic).
- Cara penulisan sebuah kalimat yang memakai kaidah SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan). Sering kita menulis tanpa memakai kaidah itu, terutama saya yang masih belajar menulis ini. Kaidah itu jadi sering terbalik-balik mengikuti pengucapan mulut.
- dll.
No comments:
Post a Comment